Wednesday, September 23, 2020

Menulis Akademik : Jurnal dan Makalah

 

Menulis Akademik

 

Narasumber : Imam Fitri Rahmadi

Dosen Universitas Pamulang

Mahasiswa PhD Johannes Kepler Universität Linz Austria

Penerima beasiswa Indonesia – Austria Scholarship Programme (IASP)

 

 Materi kali ini menjadi motivasi tersendiri bagi para peserta di kelas Belajar Menulis Om Jay bahwa menuntut ilmu itu diperlukan tekat kuat agar mampu melewati perjalanan panjang meraih cita-cita. Demikian juga bagi bapak ibu guru yang bercita-cita menerbitkan buku pun sama bahwa diperlukan tekat kuat untuk mampu melewati prosesnya.

Berbeda dari materi biasanya di kelas Belajar Menulis yang kebanyakan memberikan motivasi untuk mulai menulis dan menerbitkan buku. Materi ini berkaitan dengan menulis akademik yang memiliki prosedur maupun tata tulis yang berbeda dari menulis secara umum. Artinya diperlukan kajian teori kepenulisan yang umumnya belum diminati oleh guru. Materi ini disampaikan oleh seorang dosen yang tengah menjalani studi PhD di Austria sehingga langsung bersama pakarnya yang sudah berpengalaman. Beliau adalah Bapak Imam Fitri Rahmadi.

Perjalanan Meraih Beasiswa PhD

Membaca perjalanan panjang Bapak Imam Fitri Rahmadi untuk mendapatkan beasiswa PhD di Austria pada laman : https://tigabelase.wordpress.com/category/road-to-phd membuat kita tersadar kembali bahwa diperlukan perjuangan untuk meraih cita-cita. Tentu saja mengarungi perjuangan yang tidak mudah itu membutuhkan motivasi besar yang mampu mengalahkan penat silih berganti. Jika motivasinya tidak besar maka sedikit penat akan mampu memupus harapan dan berakhir dengan terlupakannya cita-cita besar.


 Tergambar cuplikan persiapan diri dan perjuangan yang Bapak Imam lewati selama 4 tahun untuk bisa mendapatkan beasiswa studi PhD ke luar negeri. Dari mulai mengenyam 5 kali belajar bahasa Inggris di berbagai tempat dan menjalani 4 kali tes bahasa inggris resmi dengan biaya yang tidak murah. Kemudian  melamar beasiswa hingga 9 kali dan beruntung 3 diantaranya dipanggil wawancara. Pada tahun 2019 Beliau kembali semakin banyak mendaftar beasiswa dan dipanggil wawancara. Puji syukur satu beasiswa di dapat kemudian mengikuti persiapan keberangkatan. Dan akhirnya pada tanggal 13 November 2019 sampai di Austria.

Peserta Belajar Menulis dibuat kagum dengan Bapak Imam yang masih muda tetapi sudah berburu ilmu hingga ke luar negeri yang tentu saja harus sudah berbekal ilmu yang mencukupi. Perjalanan menuju beasiswa PhD ke luar negeri telah diabadikan pada Laman blog tigabelase.wordpres.com. Beliau juga  membagikan tips dan trik bagaimana cara menyusun dokumen utama studi PhD, meliputi; 1) research proposal; 2) motivation letter; dan 3) curriculum vitae. Dan juga bagaiaman cara menghubungi profesor sebagai calon supervisor dan menghadapi wawancara beasiswa.

Bagi civitas akademik, baik guru, dosen maupun mahasiswa seringkali dihadapkan pada tuntutan untuk menyusun karya tulis akademik. Baik dalam bentuk makalah, laporan, skripsi, jurnal, thesis maupun bentul tulis lainnya. Keterampilan menulis secara akademik sangat dibutuhkan oleh masyarakat akademik termasuk guru. Guru perlu memiliki kemampuan menulis akademik yang baik untuk menyusun laporan penelitian tindakan kelas (PTK) dan/atau menulis artikel jurnal.

 

Materi ini membahas dasar menulis akademik meliputi:

1.       Pemilihan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf

2.  Lebih lanjut membahas penyusunan paragraf: kelogisan dan kepaduan paragraf, kata penghubung, serta bentuk dan jenis paragraf

3.       Penyusunan paragraf persuasif yang sangat dibutuhkan dalam menulis akademik

4.       Persamaan antara paragraf, esai, dan artikel jurnal

5.       Perbedaan antara makalah dan artikel jurnal

Materi disajikan dalam bentuk gambar dengan penjelasan singkat disertai tautan video untuk dipelajari lebih lanjut. Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=aQGL1zKfTV0

 

Apa itu Penulisan Akademik?

Pengertian paling sederhana penulisan akademik atau academic writing adalah penulisan non-fiksi yang ditulis sebagai bagian dari tugas atau pekerjaan akademik seperti menulis makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal.

Penulisan akademik bertujuan untuk menyampaikan pengetahuan dan pemahaman tentang suatu topik secara persuasif, formal, dan objektif. Gaya penulisan yang persuasif, formal, dan objektif sekaligus merupakan karakter dari penulisan akademik. Menulis akademik bermaksud untuk membangun dan menyampaikan argumen dengan gaya formal dan mengikuti kaidah-kaidah baku yang berlaku secara objektif sesuai dengan data dan fakta yang ada.

Sebagaimana definisi penulisan akademik yang merupakan tulisan yang ditulis pada suatu topik tertentu. Maka, sebelum bisa menulis secara mendalam, harus banyak membaca referensi sesuai dengan topik yang akan ditulis. Hal ini juga yang membedakan proses menulis pada umumnya dengan proses menulis akademik. Salah satu ciri khas proses menulis akademik yang tidak ada dalam proses menulis pada umumnya adalah adanya proses mencari dan mengevaluasi referensi yang relevan dari buku, artikel jurnal, dan sumber lainnya. Hal ini juga yang membedakan antara wartawan dengan penulis akademik. Wartawan bisa menulis beragam topik namun lebih sering berada pada permukaan saja. Sebaliknya, penulis akademik biasanya berfokus pada satu topik yang ditulis secara mendalam. Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=DiLIKbsB7so

 

Berikut dasar-dasar menulis akademik :

1.       Pemilihan Kata

Dasar menulis akademik yang paling mendasar adalah terkait dengan pemilihan kata. Pemilihan kata sangat menentukan rasa tulisan. Istilahnya adalah diksi, yaitu pemilihan kata yang tepat dan selaras untuk menulis kalimat sesuai dengan tujuan dan konteks penulisan. Antara penulisan personal, formal, dan akademik, kata yang digunakan bisa sangat berbeda meskipun dimaksudkan untuk mengungkapkan hal yang sama. Sebagai contoh, coba cermati tiga kalimat dalam gambar.


Berbeda satu kata saja dapat merubah rasa kalimat. Antara ngobrol-ngobrol, berbincang-bincang, dan berdiskusi, ketiganya sama-sama menggambarkan proses bertukar informasi antara para guru dengan kepala sekolah. Namun, kata ngobrol-ngobrol terasa lebih personal, kata berbincang-bincang terasa lebih formal, sedangkan kata berdiskusi terasa lebih akademik.

Menulis akademik dalam bahasa Indonesia maka penulis harus memilah sendiri kata yang akan digunakan. Berbeda dengan bahasa inggris yang memang sudah terpisah antara General English berkaitan dengan kosa kata secara umum dan academic English yang merupakan kosa kata akademik.

Penulisan kata ganti personal orang pertama, orang kedua maupun orang ketiga sebaiknya dihindari. Yaitu dengan cara mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Inilah kaidah menulis akademik, yaitu menggunakan kalimat pasif. Jadi perlu ditinjau ulang untuk dapat menyimpulkan apakan tulisan kita menyuguhkan rasa personal, formal ataukah sudah akademik. 

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=qO3JcM_5sCg

 

2.       Penulisan Kalimat

Terdapat beberapa jenis bentuk kalimat. Kalimat yang baik terdapat unsur-unsur SPOK yaitu Subjek, Predikat, Objek dan Keterangan. Terdapat aneka bentuk kalimat majemuk yang perlu diterapkan dalam tulilsan agar tidak terkesan monoton dan memiliki rasa akademik. Kalimat dapat berbentuk sederhana (simple sentence), gabungan (compound sentence), dan kompleks (complex sentence) yang apabila ketiganya digabung menjadi kalimat campuran.

Kalimat gabungan dibuat dengan menambahkan salah satu kata dari singkatan FANBOYS: For (untuk), And (dan), Nor (maupun), But (tetapi), Or (atau), Yet (namun), So (sehingga). Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti when (ketika), after (setelah), because (karena), since (sejak), although (meskipun), while (sementara), dan lainnya. Cermati contoh pada gambar berikut.


Penulis akademik harus menerapkan variasi kalimat dalam setiap paragraph agar tulisan lebih menarik dan lebih memiliki rasa akademik.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=eS8GM77jBmo

 

3.       Penyusunan Paragraf

Penyusunan paragraph yang baik dan benar merupakan kaidah menulis akademik berikutnya. Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mempunyai satu kalimat topik (topic sentence) ditambah dengan beberapa ide pengontrol (controlling idea) sebagai ide pokok atau gagasan utama (main idea) dan beberapa kalimat penjelas (supporting sentences) sebagai detail yang menjelaskan ide pokok. Dengan kata lain satu paragraph memiliki satu induk kalimat dan beberapa anak kalimat. Jika dibutuhkan bisa ditambahkan kesimpulan. Paragraph dikatakan baik jika memiliki unsur ini, yaitu satu kalimat topic, beberapa kalimat penjelas dan kalimat kesimpulan jika diperlukan.

Namun, dalam penulisan akademik, paragraf lebih dilihat sebagai sebuat esai mini yang bermula dan berakhir pada satu topik tertentu. Paragraf memiliki format serupa layaknya sebuah esai meliputi pembuka, inti, dan penutup.

Contoh paragraf yang baik dapat dilihat pada gambar berikut.

 


Menyusun paragraph agar tulisan lebih menarik dan lebih memiliki rasa akademik maka perlu menerapkan variasi kalimat. Caranya cukup sederhana, yaitu tulis kalimat topic dalam bentuk kalimat sederhana. Kemudian berikan variasi bentuk kalimat pada beberapa kalimat penjelas berikutnya. Hindari menggunakan kalimat gabungan dan kompleks pada gagasan utama, artinya kalimat topic disusun dalam bentuk sesederhana mungkin dan spesifik. Sebaliknya lakukan aneka variasi kalimat pada beberapa kalimat penjelas dan diperhalus transisinya dengan menggunakan beberapa konjungsi atau kata penghubung.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=rSYRYLd-vRw

 

4.       Kelogisan dan Kepaduan Paragraf

Membahas penyusunan paragraf yang baik bersinggungan erat dengan konsep coherence and cohesion atau kelogisan dan kepaduan sebuah paragraf. Kelogisan dalam paragraf yang dimaksud adalah logis idenya. Konsep ini berurusan dengan koneksi ide ingin disampaikan pada level ide suatu paragraph. Kelogisan paragraf banyak berkaitan dengan memainkan aspek retoris yang digunakan untuk menata ide dengan menggunakan  organisasi dan kejelasan ide, pengembangan dan dukungan argumen, serta sintesa dan integrasi rujukan. Jadi koherensi lebih focus pada ide dalam suatu paragraph yang banyak memainkan aspek retoris bukan dan dari segi bahasanya.


Kepaduan dalam paragraf mengarah pada bentuk kalimat dan paragraf yang padu. Ini lebih menekankanpada strukturnya dan bukan pada idenya. Konsep ini berkaitan dengan koneksi ide pada level kalimat dan paragraf dengan berfokus terhadap aspek penggunaan tata bahasa. Jika sudah membahas kohesi maka yang menjadi focus untuk diperhatikan adalah gramatika, pengulangan kata atau ide dengan sinonim, dan penggunaan kata penghubung.

Jadi perbedaannya kalau kelogisan atau koherensi bermain pada tatanan ide sedangkan kohesi atau kepaduan bermain pada tatanan bahasa.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=_ZdgqL9cThI

 

5.       Kata Penghubung

Kata penghubung atau dalam bahasa Inggris disebut linking words adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat yaitu antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat. Jadi kata penghubung berfungsi menghubungkan kalimat dalam satu paragraph maupun antar paragraph. Hal ini berkaitan dengan kohesi untuk mengaitkan satu kalimat dengan kalimat lainnya.

Kata penghubung dikategorikan berdasarkan fungsi spesifik dalam mengubungkan ide dan pada kalimat dan/atau paragraf. Fungsi spesifik yang dimaksud meliputi penambahan, kontras, urutan, hasil, penekanan, perbandingan, ilustrasi, kesimpulan, dan lainnya. Beberapa contoh kata penghubung dapat dilihat pada gambar.


Memilih dan menggunakan kata penghubung yang sebetulnyatepat cukup sederhana yaitu tergantung pada maksud dan tujuan penulis merangkai kalimat atau paragraf.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=f4hUHWBd5NI

 

6.       Bentuk Paragraf

Bentuk paragraf dibagi menjadi tiga, yaitu paragraf deduktif, induktif, dan campuran. Paragraf deduktif meletakkan gagasan utama pada kalimat pertama dengan penjelasan dari umum ke khusus. Paragraf induktif meletakkan gagasan utama pada kalimat terakhir dengan penjelasan dari khusus ke umum. Paragraf campuran merupakan gabungan antara paragraf deduktif dan induktif yang lebih sering berpola deduktif terlebih dulu disambung dengan pola induktif.

Menulis akademik sebaiknya menggunakan paragraf deduktif supaya tulisan mudah dipahami. Gagasan utama yang terletak pada kalimat pertama memudahkan pembaca untuk langsung mendapatkan ide pokok paragraf di awal. Dengan penjelasan dari umum ke khusus dalam suatu paragraph sehingga memudahkan pembaca memahami tulisan. Jadi menulis akademik akan lebih baik menggunakan paragraph yang sederhana agar pembaca langsung mendapat ide pokok paragraph.

Berbeda dengan paragraph induktif yang menuliskan dari umum ke khusus sehingga pembaca harus tuntas membaca sampai akhir paragraph untuk mengetahui ide pokoknya.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=4vLM4WdYQWw

 

7.       Empat Jenis Paragraf

Terdapat empat jenis paragraf meliputi paragraf deskriptif, naratif, ekspositori, dan persuasif dengan fungsi masing-masing. Paragraf deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan sesuatu atau seseorang. Paragraf naratif digunakan untuk menarasikan cerita atau runtutan peristiwa yang digunakan untuk menarasikan cerita atau runtutan peristiwa yang ditandai dengan adanya alur cerita. Paragraf ekspositori berguna untuk menunjukkan alur proses atau prosedur melakukan sesuatu.

Paragraf persuasif berperan meyakinkan pembaca untuk menerima atau memahami argumen berdasarkan fakta dan data yang disampaikan dengan menggunakan berbagai perangkat retoris. Semua jenis paragraf diperlukan untuk menulis akademik sesuai dengan fungsinya. Namun menulis akademik, terutama untuk penulisan artikel jurnal, harus banyak menggunakan paragraf persuasif. Terlebih untuk menulis bagian pengantar maka akan lebih menitikberatkan pada argument dibandingkan cerita. Dan pada bagian hasil pun tidak bisa disampaikan dengan bercerita tetapi berargumen mengangkat temuan penting dalam hal keilmuan.

Jadi penulis harus menyadari jenis paragraph yang ditulis karena masih banyak kelemahan penulis yang belum banyak menekankan argument hanya lebih banyak cerita dalam menulis akademik. Karena untuk berargumen berdasarkan data dan fakta maka diperlukan tulisan dalam bentuk paragraph persuasive, termasuk menggunakan perangkat retoris yaitu kohesi dan koherensi paragraph.

 

 Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=1Mpczv0pAoo

 

8.       Paragraf Persuasif

Paragraph persuasive dalam bahasa inggris disebut sebagai argumentative paragraph atau paragraph argumentative. Mengigat peran pentingnya dalam menulis akademik, perlu dibahas lebih mendetail cara menyusun paragraf persuasif yang penyusunannya sedikit berbeda karena memiliki komponen khusus. Kalimat topik dalam paragraf persuasif berisi klaim dan alasan rasional untuk menunjukkan posisi. Klaim ini dan alasannya dapat ditulis dengan kata mengapa. Jadi kalimatnya spesifik dan dilengkapi dengan alasannya. Kalimat penjelas berupa data sebagai bukti terdiri dari informasi detail, contoh, fakta, atau statistik yang dipilih dengan selektif dan spesifik. Sesekali harus menyuguhkan argumen berlawanan atau counterclaim untuk menunjukkan bahwa penulis sadar adanya posisi alternatif. Terakhir, terdapat warrant sebagai penjelasan dan analisis untuk menarik kesimpulan spesifik dari klaim. Warrant ini bersifat opsional jika diperlukan sebagai analisis dari klaim, counter claim dan penjelasannya.

Pengutipan fakta atau data yang tidak dibalut dengan klaim dan warrant akan mengakibatkan karya tulis akademik hanya sekedar menempelkan beberapa fakta atau data yang ada. Supaya antar paragraf, terutama paragraf intinya nyambung, harus ada thesis statement (pernyataan penulis) yang jelas dalam paragraf pembuka. Kemudian kata kunci dalam thesis statement pada paragraf pembuka tersebut dijadikan kalimat topik pada setiap paragraf inti dengan dilakukan pengulangan kata kunci namun diparafrase (dibahasakan dengan istilah lain menggunakan sinonim). Terakhir agar penutupnya bagus, kembali lagi, thesis statement di paragraf pembuka diulang di paragraf penutup dengan diparafrase.

 


Berikut contohnya.

Klaim – posisi.

Contoh: Kekerasan TV memiliki efek berbahaya pada anak-anak (mengapa?) karena mereka cenderung mengadopsi nilai-nilai dari apa yang mereka lihat, (mengapa?) sebagaimana mereka tidak dapat membedakan fiksi dari kenyataan.

Data – bukti.

Contoh: Smith (1999) menemukan bahwa anak-anak berusia 5-9 tahun yang menonton TV lebih dari tiga jam sehari 25% lebih mungkin mengatakan bahwa apa yang mereka tonton di TV “benar-benar terjadi”.

Klaim balik – posisi berlawanan.

Contoh: Kita mungkin berpendapat bahwa anak-anak ini sudah memiliki nilai-nilai kekerasan, tetapi Jones (2001) anak-anak dengan dan tanpa kecenderungan terhadap kekerasan sama-sama tertarik pada hiburan kekerasan.

Waran – penjelasan dan analisis.

Contoh: Ketika anak-anak berulang kali terpapar nilai-nilai tertentu dalam bentuk yang menarik, mereka menggunakan nilai-nilai itu untuk menyusun dunia mereka, dan karena itu mereka akan lebih siap menerima dan menggunakan kekerasan.

Warrant dalam paragraf pada umumnya itu seperti kesimpulan yang sifatnya opsional. Seperti contoh di atas, warrant menganalisis klaim, data, dan klaim berlawanan dengan seolah menyimpulkan ketiganya. Warrant itu seperti sintesa dari ketiga komponen paragraf argumentatif sebelumnya.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=gsydh8tgDng

 

9.       Persamaan antara Paragraf dengan Esai

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, paragraf dalam sudut pandang penulisan akademik lebih didefinisikan sebagai sebuah esai mini yang bermula dan berakhir pada satu topik tertentu.  Melihat dari segi format paragraf dan esai memang serupa, yaitu terdiri dari pembuka, inti, dan penutup. Pola yang diawali dengan pembukaan, diisi dengan inti, dan diakhiri dengan penutup berlaku baik pada paragraf maupun esai. Jadi paragraph dan esai memiliki kesamaan. Paragraf dibuka dengan kalimat topik, diisi dengan kalimat penjelas, kemudian diakhiri dengan kalimat penutup. Esai dibuka dengan paragraf topik, diisi dengan paragraf penjelas, terus diakhiri dengan paragraf penutup.

Struktur artikel yang bagus terdiri dari judul kemudian pembuka dilanjutkan dengan isi atau inti dari suatu karya tulis dan diakhiri dengan kesimpulan atau penutup. Artikel jurnal juga memiliki format atau pola yang hamper sama.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=rqUlfQsQmIg

 

10.   Persamaan antara Paragraf, Esai, dan Artikel Jurnal

 Lebih lanjut ternyata pola pembuka, inti, dan penutup berlaku juga pada artikel jurnal. Sistematika pada makalah, skripsi, tesis, disertasi sepertinya juga menggunakan pola tersebut. Nah, berarti sebetulnya, pola menulis akademik itu serupa mulai dari yang paling sederhana dalam menulis paragraf hingga yang lebih kompleks seperti menulis skripsi dan artikel jurnal. Apakah kesamaan pola tersebut sudah anda sadari sebelumnya?

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=wbipt_QApGg

 

11.   Perbedaan antara Makalah dengan Artikel Jurnal

Seringkali mahasiswa memiliki persepsi bahwa karya tulis makalah adalah sama dengan artikel jurnal. Padahal keduanya berbeda. Makalah dengan artikel jurnal sangat berbeda. Berdasarkan tujuan, makalah ditulis sebatas sebagai upaya menginformasikan sesuatu, sedangkan artikel jurnal bertujuan untuk meyakinkan pembaca.

Penulisan makalah berbasis topic dan hanya terbatas pada menginformasikan topik, tetapi artikel jurnal ditulis berbasis pertanyaan yang biasanya diambil dari pertanyaan penelitian. Makalah hanya menyajikan diskusi umum terkait suatu topik tertentu dan hanya meragkum informasi dari berbagai informasi. Sedangkan artikel jurnal memiliki argumen spesifik yang diangkat ke permukaan berdasarkan data dan ide spesifik. Makalah cenderung memberikan analisis atau interpretasi terhadap penelitian lain sehingga tidak menghasilkan pengetahuan baru. Sedangkan artikel jurnal menyuguhkan perspektif dan kesimpulan unik yang dimungkinkan dapat menjadi suatu pengetahuan baru karena mampu menganalisis dan menginterpretasi temuan baru.

 

Research paper merupakan artikel jurnal yang ditulis berdasarkan penelitian. Sedangkan conceptual paper ditulis berdasarkan literature review atau bisa juga case report dari laporan-laporan sebelumnya.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=FP19bofu4NM

 

12.   Kesimpulan

Menulis akademik akan lebih mudah dan menarik jika kita sudah memahami dasar-dasarnya. Memang betul menulis akademik harus persuasif, formal, dan objektif, namun bukan berarti penulisannya harus selalu menggunakan kalimat dan paragraf yang kompleks. Supaya tulisan terasa lebik akademik, pemilihan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf harus diperhatikan dengan baik. Diksi yang dipilih sebaiknya merupakan kosa kata yang akademik. Kemudian merangkai kalimat dengan bervariasi antara kalimat sederhana untuk ide pokok dan kalimat gabungan untuk ide pendukung.

Sangat disarankan paragraf berbentuk deduktif dan banyak menggunakan paragraf persuasif. Terdapat pola yang serupa dalam struktur paragraf, esai, dan artikel jurnal terdiri dari pembuka, inti, dan penutup. Salah satu pembeda antara makalah dengan artikel jurnal adalah makalah ditulis berbasis topik sedangkan artikel jurnal ditulis berbasis pertanyaan. Tingkat menulis dapat digolongkan dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi meliputi penulisan personal. Penulisan formal dan penulisan akademik.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=YGgRjFndaNE

 

Tuntutan Guru

Sudah menjadi tuntutan bagi guru masa kini untuk mampu menghasilkan karya tulis akademik dan materi ini sangat membantu bapak ibu guru untuk lebih memahami karya tulis akademik. Bermanfaat sekali dan sangat menarik materi yang disampaikan oleh Bapak Imam Fitri Rahmadi yang membahas dasar menulis akademik. Bapak dan Ibu guru peserta kelas belajar menulis yang juga sebagai civitas akademik sekolah diharapkan mampu menebar manfaat lebih luas setelah menyimak materi.

Tautan video: https://www.youtube.com/watch?v=mD3NzOrTxEs

 

Selamat berkarya

Wednesday, September 16, 2020

Coba Lakukan, Budayakan dan Konsisten

 

Narasumber : Yulius Roma Patandean

“Jangan biarkan waktu yang mengatur kita, tapi aturlah waktu itu”

(Bung Roma)


Bung Roma

Guru Bahasa Inggris dari SMA Negeri 5 Tana Toraja ini termasuk guru muda kreatif. Meskipun sudah pecah telur mampu menerbitkan buku pertamanya, namun Bapak Yulius Roma Patandean ini masih merasa statusnya sama dengan para peserta di kelas belajar menulis yaitu sama-sama belajar ngeblog dan belajar menulis buku. Kreatifitas beliau sudah nampak dari buku ajar yang pernah ditulisnya pada tahun 2007 hingga tahun 2009. Buku ajar Bahasa Inggris untuk kelas X, XI dan XII ini memang sebatas digunakan di sekolahnya sendiri, namun inilah bukti kreatifitas guru yang mampu menghasilkan karya. Ditengah keterbatasan yang ada saat itu, Bang Roma berhasil mendapatkan tanda tangan Kepala Dinas Pendidikan Tana Toraja pada ketiga bukunya.

Menulis Buku

Salah satu keistimewaan menulis buku yakni tersalurkannya ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki ke dalam sebuah tulisan secara formal. Orang berilmu akan bermanfaat jika mau membagikan ilmunya. Dan menulis adalah sarana memberi manfaat ilmu yang akan terus terekam.

Di samping itu menulis merupakan sebuah kegiatan yang membutuhkan pembiasaan. Memang tidak mudah memulai kebiasaan baru untuk menulis, tapi tentu saja bisa diupayakan selama memiliki keinginan. Membiasakan diri menulis setiap hari perlu dilakukan, inilah tips yang sering disampaikan oleh para penulis buku. Dalam upaya membiasakan diri menulis, bisa dilakukan dengan menulis apa saja dan semua topik bisa dituliskan. Awali proses menulis dengan ha-hal yang disukai atau yang dikuasai.

Menerbitkan buku karya tulis pertama dari Penerbit ANDI, hasil kolaborasi dengan Prof Richardus Eko Indrajit ternyata telah memberi kebiasaan baru bagi Bang Roma. Yaitu kebiasaan menulis setiap hari.



Kegiatan menulis telah membuatnya selalu mencoba menuliskan apa yang terlintas di  pikiran saat itu. Termasuk menulis puisi, baik puisi berbahasa Indonesia maupun puisi berbahasa Inggris. Karena saat ini materi ajar Bahasa dan Sastra Inggris di kelas XI terkait puisi. Jadi sambil mengajar siswa menulis puisi, Beliau juga mengasah kemampuan untuk menulis puisi. Begitulah, maka sekali mendayung dua pulau terlampaui, peribahasanya.

Coba dan Lakukan

Saat ini Bang Roma pun telah mengajak beberapa teman guru untuk mulai belajar menulis. Mereka sepakati untuk menulis materi yang diajarkan di kelas. Topik yang dipilih adalah seputar puisi. Bersama dua orang guru bahasa Indonesia yang bersedia menulis bersama, sepakat untuk menuliskan minimal 40 puisi dengan tema Pembelajaran Jarak Jauh selama sebulan yaitu sepanjang bulan September. Setiap sore beliau menulis minimal satu puisi. Temanya tentang apa saja yang terlintas di pikiran saya. Inilah yang disebut COBA dan LAKUKAN. Coba saja menulis tentang apa saja dan lakukan saja, tulis saja. Hilangkan semua keraguan yang ada. Jika bisa berkolaborasi itu akan lebih baik untuk menambah semangat dan menambah ilmu.



Dokumentasi PJJ

Semenjak Pembelajaran Jarak Jauh diberlakukan karena pandemi virus korona, Bung Roma mengelola kelas  ajar dengan menggunakan kombinasi Zoom dan YouTube. Semua tatap muka yang Beliau lakukan sepanjang satu minggu mengajar didokumentasikan di YouTube. Inilah kreatifitas selanjutnya sebagai seorang guru yang mengajar secara online. Sebetulnya Pembelajaran Jarak Jauh ini membuat Bung Roma lebih sibuk. Beliau tetap masuk tepat waktu di kelas virtual seperti halnya di kelas tatap muka.

Budayakan dan Konsisten

Walaupun saat ini waktu dikategorikan padat tetapi bagi Bung Roma, kitalah yang harus memilih untuk mampu mengatur waktu. Misalnya, menulis buku difokuskan di akhir pecan. Sementara waktu lainnya digunakan untuk menuliskan apapun yang bisa dituliskan seperti menulis puisi atau menuliskan ide sederhana yang tiba-tiba muncul.

Bung Roma saat ini fokus menulis tiga buku yaitu buku Flipped Classroom, sebuah buku Grammar dan buku kumpulan puisi. Agar KONSISTEN maka yang harus dilakukan adalah menetapkan visi penulisan itu, yakni tulisan harus selesai dalam waktu yang sudah ditentukan. Dengan adanya visi dan batasan waktu maka kita akan konsistensi dan selalu menjaga waktu walaupun berada di tengah berbagai kesibukan.

Terkait BUDAYAKAN dan KONSISTEN dari CLBK, strategi lain yang perlu dilakukan adalah menyiapkan rancangan atau draft penulisan dalam laptop, sehingga ketika kita membuka laptop maka draft tulisan itu akan selalu menyapa dan mengingatkan dengan ide yang akan dituliskan.



Selanjutnya, perbanyak inputnya. Artinya memperkaya sumber referensi, baik dari buku-buku yang mirip topiknya maupun dari internet. Jika diperlukan kita bisa  mencari buku dengan format PDF di internet seperti yang pernah diajarkan caranya oleh Prof Eko. Inilah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mulai memBUDAYAKAN menulis.

Ide Menulis dengan Enam Kata

Bung Roma punya cara tersendiri agar tidak mentok ide dalam menulis. Salah satu kendala kita ketika menulis adalah merangkai kalimat yang panjang. Apalagi dalam konteks menulis buku yang dituntut untuk menyajikan mutu buku yang bagus.

Maka salah satu cara yang dilakukan oleh Bung Roma adalah mencoba menuliskan ide dengan maksimal 6 kata dalam satu kalimat. Kemudian buat agar antara kalimat satu dengan yang lainnya selalu memiliki kaitan. Tulisan-tulisan dengan maksimal 6 kata dalam satu kalimat ini telah sering Beliau ujikan ke siswa ketika mengajar melalui WA group. Inilah cara mempraktekkan salah satu isi tulisan Beliau di buku Digital Transformation yakni Cyber Pedagogy. Dalam kaitannya dengan teknologi digital, Cyber Pedagogy adalah sebuah metode dan seni mendidik dengan perpaduan penggunaan teknologi atau seni mengajar dalam lingkungan yang serba online dalam pembelajaran sehingga memusatkan pembelajaran itu pada siswa atau disebut student center.

Bung Roma mengirimkan paragraf singkat ke siswa di mana kalimatnya terdiri atas maksimal 6 kata. Meskipun seringkali 8 kata atau 10 kata. Kemudian Beliau tanyakan apa keunikan kalimat tersebut kepada murid-muridnya. Disinilah kegiatan mengajar dan sekaligus mengasah kemampuan menulis dilakukan.

Cara lain yang Beliau lakukan adalah dengan mengubah judul Bab. Bisa jadi judul Bab itu sendiri yang seringkali membatasi ruang berpikir kita. Mencoba mengubah Judul Bab menjadi sub judul, karena dianggap pembahasannya terbatas. Kemudian cari topik yang sejenis dengan judul tersebut untuk kembangkan terlebih dahulu sebagai sub judul. Jika ternyata dalam pengembangannya sub judul baru ini lebih luas materinya, maka geser sub judul tersebut menjadi Judul Bab

Misalnya menulis judul Bab Sekolah Pintar, maka langkahnya kumpulkan dulu unsur-unsur apa yang harus pintar dalam sebuah sekolah. Kemudian terkumpullah ide sub Judul: Kurikulum, Kepala Sekolah, Guru, Tata Usaha, Administrasi, Jadwal, Bangunan, Pelatihan, Lacak Alumni. Dari judul-judul ini, kemudian beri tambahan judul smart. Sehingga ketika selesai dituliskan pengembangannya, menghasilkan judul BAB SMART SCHOOL. Inilah cara meluaskan ide dalam menulis buku.

Closing

Jika mengalami kesulitan menulis maka rangkailah kalimat dengan sederhana dan singkat. Selain itu agar mampu menCOBA, meLAKUKAN, memBUDAYAKAN dan KONSISTEN maka kita perlu menetapkan visi dan komitmen kita dalam menulis.

Selamat CLBK

Tuesday, September 15, 2020

Energi Menulis

 Narasumber : Eva Hariyati Israel, S.Kom


Guru TIK



Beliau seorang guru TIK di SMA Negeri Kota Kupang Nusa Tenggara Timur, nama lengkapnya Ibu Eva Hariyati Istael, S.Kom. Sosok guru yang aktif ini pernah menjadi Instruktur Kurikulum 2013 tingkat SMA di Provinsi  Nusa Tenggara Timur dari tahun 2016 hingga tahun 2018. Juga menjadi sahabat rumah belajar di Provinsi NTT di tahun 2019. Saat ini di tahun 2020 beliau sebagai calon pendamping guru penggerak angkatan pertama. Berkarya dan bermanfaat adalah satu hal yang bisa kita lihat dari narasumber malam ini di kelas belajar menulis Om Jay.

Kelas Menulis Om Jay

Berada dalam grup WA belajar menulis bersama Om Jay bersama rekan-rekan guru pembelajar sangat memeberikan ruang dan menjadi wadah bagi kita menggali potensi dan mengembangkan minat dan belajar dari banyak pakar ahli yang ada dalam Grup ini. Bu Eva merasakan itu ketika awalnya beliau bergabung sebagai peserta belajar menulis di grup WA gelombang 7. Sama alurnya seperti yang saat ini peserta kelas belajar menulis lakukan, beliau dan rekan-rekan di gelombang 7 juga melakukan hal yang sama. Belajar tahap demi tahap, mengeksploasi dan elaborasi konsep dari setiap Narasumber yang dihadirkan hingga akhirnya dapat mewujudkannya menjadi sebuah Aksi Nyata menulis dan melahirkan buku.

Awalnya Bu Eva ikut bergabung dan menimba ilmu mengikuti setiap rangkaian materi yang disajikan dalam forum belajar menulis gelombang 7 di bulan Maret 2020 bertepatan dengan pandemi Covid 19. Kebijakan belajar dan bekerja dari rumah merupakan hal yang baru dirasakan, dimana rasanya membuat kita membuang waktu dan bingung harus berbuat apa karena mendadak harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh.

Ternyata jika kita dapat melihat dari sudut pandang positif, pandemic ini akhirnya membawa berkah peningkatan kompetensi menulis bagi Bu Eva dengan bergabung digrup menulis Om jay. Setiap hari peserta di group ini berlatih menulis 3 paragraf pertama dari ide ide yang di lemparkan om jay ke grup kelas. Awalnya beliau berpikir Om Jay hanya mengajak kita menulis dengan tema tema sederhana seperti kucing, siomay, anak bayi, pokoknya apa saja yang dilemparkan ke grup, ternyata dari situlah kita diharapkan bisa merangkai kata hingga minimal 3 paragraf untuk melatih kebiasaan menulis.

Semakin hari semakin bertambah pengalaman. Hadirnya narasumber-narasumber yang luar biasa mampu menginspirasi dan membuat semangat untuk menulis semakin besar. Dari yang hanya menulis minimal 3 paragraf, pentigraf, hingga menuangkan resume materi dalam tulisan di blog. Setiap peserta wajib membuat resume dan memposting diblog. Berbekal pengalaman yang luar biasa ini akhirnya mampu menghantarkan Bu Eva untuk bisa melahirkan sebuah buku pertama.

Buku Pertama

Materi dari seorang Professor baik hati dan berprestasi malam itu membuat para peserta menyimak dengan seksama. Hal yang membuat dada para peserta berdegup kencang yaitu saat seselai materi dan kemudian Prof.Richardus Eko Indrajit mengajak sekaligus menantang para peserta untuk berkolaborasi menulis bersama Beliau dalam waktu satu minggu. Dalam hati, Bu Eva berteriak GILAAA menulis seminggu bisakah? Apalagi para peserta semuanya para pemula dan rasanya tidak yakin bisa memenuhi tantangan Profesor.

Berikutnya peserta diminta mengisi list dengan metuliskan nama serta nomer HP bagi yang merasa siap menerima tantangan. Bu Eva sendiri terkagum-kagum membaca setiap tema yang disodorkan, karena semua berkaitan dengan teknologi informasi terkini. Meskipun beliau seorang Guru TIK tapi masih merasa belum memiliki potensi untuk menuliskan konsep konsep tema yang ditawarkan Prof. Eko waktu itu.

Akhirnya karena merasa tertantang dan untuk membuktikan kemampuan diri bahwa beliau bisa menulis buku maka Bu Eva pun memberanikan diri menuliskan nama dan nomer HP pada list yang diedarkan. Selanjutnya 21 orang peserta yang sudah mengisi daftar kemudian digabungkan dalam grup menulis bersama Prof. Eko.

Main map tentang buku yang akan ditulis disodorkan Bu Eva kepada Prof. Eko pada hari pertama mulai menulis. Main map ini beliau dapatkan dari belajar menulis bersama narasumber Bapak Akbar Zainudin Penulis buku Man Jadda Wa Jadda. Kemudian dari main map ini dituangkan ke dalam outline yang hari itu juga disetujui oleh Prof Eko dengan mendapat tanggapan Very Good. Selanjutnya Bu Eva diminta untuk langsung membuat daftar isi bukunya.



Bu Eva mulai membuka sejumlah referensi salah satunya dengan membeli buku karya bapak Akbar Zainudi berjudul UKTUB yang memberikan panduan lengkap menulis buku dalam 180 hari serta buku  referensi lainnya yang direkomendasikan. Membuat daftar isi yang dikembangkan dari main map akhirnya berhasil diselesaikan sebagai tahap awal untuk menulis buku.

Melihat cover buku yang dibuat oleh Prof. Eko pada hari kedua membuat Bu Eva begitu bersemangat dan merasa buku hasil karyanya sudah terbit padahal baru covernya saja. Inilah yang membuat Bu Eva mengalami kegilaan menulis hingga otaknya hanya fokus pada tulisan ide-ide yang akan ditambahkan kedalam bukunya.

Hari ketiga , ke empat dan ke lima, dilewati dengan FOKUS menulis tanpa buang buang waktu. Sehingga waktu satu minggu itu pikiran , hati dan raganya benar –benar menjadi satu seiring sejalan, tak ingat lagi yang lain, yang diingatan hanya deadline yang hampir habis dan harus kelar. Ngeri ngeri sedap menurut beliau, bahkan terkadang rasa kantuk pun hilang ketika tangan sudah asyik menari nari di atas keyboard, membawa perasaan seperti sudah ahli sekali merangkai kata padalah baru kemarin belajar. Do’a memohon kemudahan dan kelancaran pun selalu dipanjatkan mengiringi ikhtiar yang tengah dikejar.

Inilah pengalaman menulis buku pertama yang tak akan terlupakan. Akhirnya Bu Eva bisa membuktikan bahwa beliau bisa menulis buku dalam waktu satu minggu. Selanjutnya proses editing, bersyukur dalam waktu dua minggu proses editing selesai dan siap disetorkan kepada Prof Eko untuk disempurnakan dan dikirim ke penerbit.

Peserta belajar menulis yang menerima tantangan Pak Eko semula dari jumlah 21 peserta yang bergabung akhirnya hanya 11 orang yang berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Dua pecan kemudian, tepatnya tanggal 23 Mei 2020 tibalah waktunya para peserta mendengarkan hasil  Evaluasi dan pengumuman tulisan yang Lolos untuk diterbitkan di penerbit Andi. Bersyukur, 9 orang penulis yang berkolaborasi dengan Prof. Eko berhasil diterima tanpa revisi. Termasuk salah satunya adalah Bu Eva dengan buku berjudul Kelas Maya. Sungguh suatu kepuasan bathin yang tak ternilai harganya, mendapatkan pencapaian sejauh ini. Rasa lelah telah terbayar sempurna mendengar keputusan tersebut.



Pengalaman dari menulis buku berjudul Kelas maya –Membangun Ekosistem E-Learning di Rumah belajar yang berhasil lolos evaluasi dan diterbitkan oleh penerbit Andi ini membuat Bu Eva terinspirasi untuk menulis kembali. Buku pertama ini terinspirasi dari aktivitas yang beliau ikuti sebagai sahabat Rumah Belajar.

Berikutnya pengalaman beliau sebagai Instruktur Kurikulum 2013 juga menginspirasinya untuk menulis buku Optimalisasi Model-Model Pembelajaran Inovatif yang saat ini sudah masuk tahap editing.

Kemudian setelah mengikuti kegiatan bimtek pendamping selama sembilan hari sebagai calon pendamping guru penggerak angkatan pertama, Bu Eva kembali terinspirasi untuk menulis buku dengan judul Belajar Merdeka, Merdeka Belajar. Sungguh pengalaman adalah inspirasi menulis bagi beliau.

Berbagi dengan Menulis

Akan ada jalan yang terbuka ketika kita menulis dengan niat berbagi. Karena apa yang terpancar oleh pikiran kita itulah yang akan mempertemukan kita dengan nasib kita, dengan orang-orang hebat yang luar bisa menginspirasi dan selalu berbagi. Sehingga satu prinsip yang Bu Eva pegang saat ini, yaitu semakin dibagi semakin tak terbatas. Dan benar terbukti, semakin kita niat berbagi ada saja ide ide yang muncul dalam pikiran dan hati kita, seakan ide itu tidak pernah habis.

Awalnya apa yang kita lihat dan kita alami mungkin tidak terpikir untuk kita bagikan apalagi untuk ditulis dalam bentuk karya tapi setelah pecah telur buku pertama yang bisa diterbitkan maka semakin memotifasi untuk menghasilkan karya-karya yang lainnya. Inilah rasanya bahwa keberkahan selalu datang.

Pengantar

Diperlukan ada 2 atau 3 pengantar atau testimoni dari orang orang yang dianggap penting setelah buku rampung ditulis. Maka orang pertama yang diminta untuk menyampaikan pengantar adalah Om Jay. Ini menjadi motifasi yang luar biasa, hingga beberapa teman yang lain pun dengan senang hati menuliskannya. Semangat berbagi ini juga yang mengantarkan buku Bu Eva mendapatkan kata pengantar dari bapak Gogot Suharwoto, kepala Pustekkom 2017-2020.

Dan tidak disangka-sangka berbagai apresiasi dan doa tulus dari teman teman dan sahabat menjadi semangat yang semakin menggerakkan ketika Judul Buku kelas Maya ini beliau posting di laman face booknya.

Serasa mimpi bagi Bu Eva, seorang guru yang baru belajar, guru yang masih sangat minim pengalaman bisa berkolaborasi dengan seorang Profesor dan mendapatkan apresiasi serta kata pengantar dari orang yang luar biasa.

Pengalaman beliau ini diharapkan bisa memotifasi bapak ibu guru hebat lainnya bahwa kita bisa. Hilangkan keraguan yang ada, hargai potensi kita sebagai mahluk ciptaan Allah yang sempurna dan memiliki bakatnya masing masing. Yakinkan dalam diri bahwa batu hambatan yang ada harus mampu kita pecahkan.

Memang benar, bahwa cita-cita itu harus dikejar seperti laskar pelangi. Inilah motivasi yang disampaikan oleh Profesor Eko untuk menyemangati para peserta di group kelas belajar menulis untuk meraih cita-cita menerbitkan buku. Bangun mindset dan motifasi positif dari dalam diri sehingga berhasil  membuktikan dan mematahkan keraguan yang ada dan kita akan berproses menghasilkan hal hal yang positif.

Semangat mengejar cita-cita..

Monday, September 14, 2020

Branding Yourself

 Narasumber : Bapak Namin AB Ibnu Solihin

Founder Motivator Pendidikan

Membangun branding melalui blog dan media social merupakan topik yang akan dikupas pada kesempatan kali ini bersama narasumber ternama seorang founder motivatorpendidikan.com. Beliau adalah Bapak Namin AB Ibnu Solihin, ayah empat anak ini juga sering didaulat sebagai pembicara pada berbagai Seminar Parenting, Konsultan Branding Sekolah dan Bloger Pendidikan. 

Saat ini beliau tengah menggagas komunitas @anaktanpagadget yang saat ini menjadi urgen untuk dipelajari. Beliau juga aktif membagikan secara gratis lebih dari 250 materi training di slideshare.net. Chanel ini bahkan setiap tahunnya bisa dilihat oleh lebih dari setengah juta kali dan di download hingga tujuh ribu kali pada link https://www.slideshare.net/mobile/naminsekolahakhlak.

Kiprah Pak Naim di dunia maya melalui instagram dapat difollow di instagram @motivatorpendidikan.com atau juga @anaktanpagadget termasuk di Chanel You Tube Motivator Pendidikan juga tersedia video-video kegiatan yang diabadikan selama menjadi motivator pendidikan.

Perjalanan Ngeblog

Pak Naim mengawali aktivitas sebagi bloger mulai tahun 2007 melalui blogspot.com. Saat itu beliau ngeblog hanya sekedar untuk mengisi waktu luang saat istirahat mengajar. Tulisan di blog juga masih sangat beragam, bahkan lebih banyak curahan hati semata. Jadi diawal ngeblog memang tidak memiliki impian atau tujuan apa-apa, sekedar hanya untuk kesenangan saja agar waktu istirahat lebih bermanfaat.

Saking asiknya ngeblog beliau bahkan pernah membuat lebih dari sepuluh blog melalui blogspot.com. Saat ini sebagian besar blog tersebut sudah dihapus dan sebagian lagi belum sempat dihapus karena lupa username dan paswordnya saking banyaknya blog yang dibuat. Hingga akhirnya pada tahun 2013 beliau mengenal guraru.org, sebuah blog yang diisi oleh guru-guru kreatif dengan konten edukasi yang sangat menarik. Chanel rombongan guru era baru ini setiap tahunnya juga memberikan penghargaan bagi para guru bloger yang berprestasi. Beberapa pemenang penghargaan guru era baru tersebut adalah Bapak Agus Sampurno dengan brandnya Guru Kreatif, Bapak Wijaya Kusuma atau yang dikenal dengan Om Jay dengan brandnya Guru Bloger, ada lagi Bapak Dedi Dwitagama seorang kepala sekolah yang super aktif kegiatannya. Guraru.org hingga kini masih ada hanya saja kegiatan forum menulisnya tidak seramai dulu.

Berawal dari ngeblog asal-asalankemudian Pak Namin mulai memililki semangat untuk berbagi melalui tulisan di blog kerotokan dan blog pribadi. Keinginannya untuk dapat menulis agar lebih baik lagi kemudian ditindaklanjuti dengan memaksakan diri mengikuti program Teacher Writing Camp angkatan ke-3 pada tahun 2013. Kegiatan ini digagas oleh Om Jay Wijaya Kusuma dan teman-teman penggiat guraru.org.

Tahun berikutnya tepatnya 2014 beliau bersama Om Jay dan rekan-rekan lainnya menggagas berdirinya Komunitas Sejuta Guru Ngeblog. Inilah wadah yang memberikan pelatihan Guru Ngeblog Gratis bagi guru-guru di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dari tahun 2014 hingga tahun 2015. Program ini digagas dengan misi menggerakkan guru-guru agar mau menulis dan menggunakan teknologi internet sebagai sarana pembelajaran. Impian besarnya adalah agar para guru bisa aktif berkontribusi menjadi produsen digital dengan cara menulis konten edukatif setiap hari.

Produsen Digital

Sudah saatnya guru menjadi produsen digital, bukan lagi sekedar konsumen digital. Karena seperti yang kita pahami saat ini banyak sekali konten negative yang setiap harinya bisa menjadi monster dan predator yang sangat menyeramkan. Konten negative ini bisa dalam bentuk pornografi, kekerasan, narkoba maupun game yang bisa saja menyerang orang dewasa dan juga anak-anak. Bahwa Indonesia termasuk Negara yang mengakses pornografi paling besar di dunia ini miris sekali, karena kondisi seperti ini bisa menghancurkan masa depan generasi bangsa. Disinilah peran kita sebagai guru perlu untuk berkontribusi menyelamatkan generasi bangsa dengan membuat konten edukasi yang kreatif.

Membangun Branding

Membangun branding lewat blog baru dimulai oleh Pak Namin pada tahun 2014. Perjalanan membangun branding ini memang tidak singkat, beberapa kali perlu dikaji ulang, dikaitkan dengan keilmuan kita, passion dan materi-materi yang kita posting di blog. Tahun 2015 akhirnya beliau melaunching branding www.motivatorpendidikan.com. Konten tulisan yang ada didalamnya berisikan berbagai jenis program training pendidikan.

Sebelum website motivator pendidikan tersebut dilauncing, Pak Namin banyak meluncurkan gagasan tentang pendidikan di bloghttps://motivatorkreatif.wordpress.com. Memang membangun branding tidak bisa cepat, dibutuhkan kesungguhan dan komitmen kita untuk terus menekuninya. Dan dengan kesungguhan aka nada kemudahan.

Membangun branding harus sejalan dengan kompetensi yang kita miliki. Jati tidak bisa kita hanya coba-coba membangun branding tertentu tapi tidak punya ilmunya. Membangun branding melalui blog juga harus selaras dengan kepribadian dan passion kita. Baik itu melalui blog maupun chanel media social yang lain maka semua jenis gagasan, aktivitas, video maupun foto yang kita posting harus sejalan dengan branding yang kita bangun.

Kita wajib menulis konten kreatif di blog dengan konsisten sesuai branding yang bingin kita tampilkan. Inilah yang harus kita taati. Jika kita ingin dikenal sebagai pakar pendidikan maka diperlukan konsistensi menulis hal-hal yangn berkaitan dengan dunia pendidikan. Tambahkan gagasan kreatif yang menarik atau sedang dibutuhkan banyak orang. Hingga akhirnya ketika orang menyebutkan “motivator pendidikan” maka secara otomatis mereka akan ingat pada sosok “Namin AB Ibnu Solohin”. Ini contohnya. Contoh lain lagi yaitu branding guru bloger Indonesia maka kita akan ingat dengan profil Om Jay Wijaya Kusuma. Atau branding guru kreatif maka akan ketemu dengan Bapak Agus Sampurno.

Membangun branding melalui tulisan di blog mampu mengantarkan para pemiliknya keliling Indonesia. Sebut saja Om Jay dan bapak Agus Sampurno. Pak Namin sendiri setidaknya telah mengisi training lebih dari 300 lembaga di seluruh Indonesia sejak tahun 2014 hingga sekarang. Inilah buktinya bahwa membangun branding melalui blog dan media social itu menguntungkan meskipun perjalanannya tidak singkat.

 

Btand and Branding

Sebetulnya kita sudah sering mendengar istilah brand dan branding, walaupun sepertinya sama tetapi sebenarnya memiliki perbedaan. Brand adalah merek yang dihasilkan melalui branding. Sedangkan branding sendiri merupakan proses atau strategi yang dilakukan untuk membangun hubungan dengan para pembaca blog atau media social yang kita miliki.

Dalam proses branding, beberapa poin yang perlu mendapat perhatian diantaranya adalah : Nama blog, identitas, focus materi, konten tulisan, dan strategi yang akan dilakukan dalam rangka memperkenalkan branding kita. Berikut ditampilkan skema membangun brand dan pola branding yang dilakukan :

1.       Nama Blog dan instagram : motivatorpendidikan.com

2.  Identitas : logo dan tulisan dibuat dengan dominan warna merah yang mencerminkan nilai semangat

3.       Focus : training, seminar dan workshop berkaitan dengan dunia pendidikan

4.   Focus materi : Training Guru Kreatif, Seminar Parenting, Motivasi Pelajar dan Mahasiswa, Branding Sekolah

5.       Konten tulisan : berisi artikel pendidikan dan foto-foto kegiatan training

6.       Strategi yang dilakukan dalam membangun branding yaitu :

a. Membuat blog dan media sosial yang mudah dibaca dan diingat oleh orang yaitu motivatorpendidikan.com

b.      Mengisi konten Blog dan Media sosial dengan tulisan – tulisan yang berkaitan dengan dunia pendidikan, sehingga segmentasi jelas, bahwa pembaca yang akan berkunjung adalah mereka yang membutuhkan konten tersebut.

c.       Membuat poster dan video yang berkaitan dengan motivasi pendidikan.

d.      Membuat kaos yang bertuliskan motivatorpendidikan.com

e.   Mengadakan pelatihan Gratis dari motivatorpendidikan.com sebagai sarana memperkenal Brand (merek)

f.      Madakan perlombaan menulis buku yang diselenggarakan oleh motivatorpendidikan.com

g.  Membagikan secara gratis ribuan video pendidikan kepada para follower atau peserta kegiatan seminar.

Kita bisa simpulkan unsur-unsur dalam branding diantaranya adalah:

1.       Nama merek atau brand : contohnya, Motivatorpendidikan.com

2.       Logo (Tulisn dan Logo ) : buat yang unik, menarik dan mencerminkan concern kita

3.    Tampilan visual Blog dan Medsos : buat yang simple, informati dan SEO Friendly. Contohnya, bisa dilihat di  website motivatorpendidikan.com

4.    Juru bicara : sebutan yang ingin kita sematkan, contohnya : Namin AB Ibnu Solihin : Founder motivatorpendidikan.com

5.       Suara : Ciri khas yang ingin kita tampilkan ketika membuka atau mengisi sebuah training

6.   Slogan/Tagline/Akronim : kalimat singkat yang menggambarkan branding kita, contohnya : Tecaher Learning Partners.

Personal Branding

Jika kita sudah berhasil membangun Branding, maka kita sebagi founder secara personal juga terbangun brandingnya. Inilah yang dikenal dengan istilah personal branding. Pada akhirnya public akan mengenal diri kita dari merek kita, cara bicara kita, pembawaan kita saat menyampaikan seminar, dan cara berpakaian kita. Beberapa cara dapat dilakukan untuk lebih mengenalkan branding kita, salah satunya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan gratis secara berkelanjutan atau kegiatan bermanfaat lainnya yang mampu membuat public berkesan dengan brand kita.

Jika hari ini orang belum mengenal tulisan kita, tetaplah semangat menulis, dengan semangat berbagi kebaikan melalui blog dan media social lainnya. Jangan jadikan orientasi utama untuk dapat uang dan terkenal karena NgeBlog. Karena uang dan popularitas akan kita dapatkan, seiring ketika kita sudah banyak berkontribusi dalam tulisan diblog yang bisa menginspirasi dan memberikan manfaat bagi banyak orang

Tetaplah semangat untuk menulis di blog.